Dendi Kurniawan

I am a Writer

DENDI KURNIAWAN

A man with his dream .
Malay, Borneo

  • Sudirman Street 3056, Jakarta City.
  • +610-401-6021
  • kerangge@gmail.com
  • www.kerangge.com
Me

My Professional Skills

I am a person with great effort to learn

English Competence 90%
Digital Designer 65%
Microsoft Office 95%
Blogger 70%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • BOLA

     
    Salah satu cabang olahraga yang diklaim mempunyai peminat yang paling banyak adalah sepakbola. Dinegara-negara Amerika Latin, sepakbola bahkan dijadikan sebagai budaya, sehingga negara-negara tersebut layak disebut sebagai kiblat sepakbola dunia. Sepakbola juga merupakan bisnis yang sangat menjanjikan. Jutawan-jutawan minyak dari timur tengah berlomba-lomba membeli klub-klub raksasa di Eropa. Pemain-pemain sepakbola yang berlabel bintang diperlakukan layaknya selebritis.

    Lalu, bagaimana dengan wajah persepakbolaan di Indonesia? Kita semua sudah tahu bahwa negara kita ini sudah lama puasa gelar. Sekitar era 90-an, Indonesia dianggap sebagai “macan asia” yang sering menyabet gelar dalam kejuaraan sepakbola. Sayangnya, dewasa ini timnas kita sering mengalami kekalahan.

    Manajemen yang ambur adul adalah salah satu kesalahan besar yang terjadi yang menyebabkan mandeknya prestasi sepakbola Indonesia. Duelisme yang berkepanjangan menyebabkan kekuatan kita tidak bisa bersatu. Kehadiran Menpora yang baru, Roy Suryo, membawa angin segar dalam penyelesaian masalah ini. Melalui Kongres Luar Biasa beberapa waktu yang lalu, pihak yang bertikai sepakat untuk mengakhiri duelisme ini. Nampaknya kekuatan timnas kita akan bersatu dan menjadi lebih kuat.

    Setelah bersatunya para pengurus di tingkat organisasi, masalah lain yang tak kalah penting adalah tidak bersatunya para suporter. Sering kali pemberitaan di televisi mengabarkan suporter yang ricuh dalam sebuah pertandingan, baik di dalam maupun di luar stadion. Perseteruan ini sepertinya sudah membudaya sehingga sangat susah mencari jalan penyelesaiannya.

    Dengan dilantiknya Menpora yang baru ternyata masih belum bisa menangani problema ini. Seperti kejadian ketika Persija menjamu Persib di Sleman Rabu (28/8) kemarin. Kehadiran Roy Suryo dengan menghadiri langsung pertandingan tersebut tidak mengurangi rivalitas 2 kubu suporter yang berseberangan. Terbukti dengan beberapa kali pertandingan dihentikan akibat suporter yang rusuh.

    Dengan suasana yang tidak kondusif ini membuat para pemain tidak fokus untuk berlaga dalam sebuah pertandingan. Konsentrasi mereka terpecah memikirkan pertandingan dan keselamatan mereka. Sepanjang pertandingan mereka diteror dengan kata-kata maupun lemparan barang-barang keras. Sudah barang tentu mereka bermain tidak secara maksimal. Sehingga mereka tidak bisa mengembangkan skill mereka dengan baik.

    Kita lihat 3 tahun kebelakang, tim-tim yang berkuasa di liga-liga Indonesia adalah tim yang notebenenya tidak memiliki suporter yang fanatik. Namun sebaliknya, prestasi tim yang memiliki suporter yang besar tidak bisa merangkak naik. Hal ini karena konsentrasi manejemen klub terganggu dengan masalah suporter.

    Kurang lebih 2 tahun terakhir, saya berdomisili di kota yang memiliki klub sepakbola sekaligus suporter yang fanatik. Saya sedikit faham bagaimana loyalitas suporter dengan klub. Hal ini tentunya bisa memberikan iklim yang positif bagi pemain dan klub.

    Suporter memang tidak bisa lepas dari klub sepakbola. Suporter fanatik sejujurnya bukanlah hal yang negatif. Sebaliknya, suporter fanatik ini yang memberikan warna tersendiri bagi sepakbola Indonesia. Hal ini merupakan daya tarik bagi pemain asing untuk meniti karir sepakbola mereka di sini. Ditengah berbagai permasalahan yang melanda sepakbola Indonesia, tidak sedikit pemain asing yang setia dan memilih klub di Indonesia. Terlepas untuk mencari nafkah, lantas apa motif mereka bermain di Indonesia? Bahkan pemain yang berasal dari negara yang mempunyai kurs lebih tinggi dari rupiah tetap memilih Indonesia. Sebagai contoh pemain dari Jepang, jika gaji mereka di Indonesia di tukar dengan mata uang Yen, nominal gaji mereka tidaklah terlalu besar.

    Namun, mengapa mereka masih betah bertahan di sini? Tidak lain adalah karena fanatisme suporter yang tidak mereka dapatkan di negara lain. Suporter yang tidak berhenti menyemangati mereka selama pertandingan berlangsung adalah hal yang sangat spesial bagi mereka. Ada kebanggaan tersendiri ketika kedatangan mereka di stadion di elu-elukan oleh suporter.

    Selangkah lagi, sepakbola Indonesia akan merengkuh kejayaannya lagi yang sudah lama ditinggalkan. Hanya masalah suporter yang masih menjadi batu sandungan. Kita boleh berbeda kostum, baik biru, oranye, kuning, dll. Tapi yang paling penting adalah spirit kita harus sama, yaitu melihat garuda terbang lebih tinggi.
  • BROMO

    Siapa yang tidak tahu dengan Gunung Bromo? Orang yang pernah berkunjung ke Kota Malang dianggap belum sah apabila belum mengunjungi gunung ini. Secara geografis, Bromo memang tidak terletak tepat di Kota Malang. Gunung ini terletak di perbatasan Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Lumajang. Bromo merupakan salah satu gunung di Pengunungan Tengger yang juga termasuk dalam Taman Nasional.
    Dalam dekapan udara dingin …
    Tepat pukul 03.00 WIB serombongan mahasiswa dari penjuru nusantara yang sedang kuliah di salah satu kampus swasta di Malang, sibuk bersiap-siap untuk menaklukkan salah satu dataran tinggi di Pulau Jawa ini. Dengan mengendarai sepeda motor, kurang lebih sebanyak 20 orang mereka berusaha menembus kabut tebal yang membuat jarak pandang hanya 50 meter. Mereka harus ekstra hati-hati menempuh jalan yang berkelok-kelok dan licin karena sebelumnya habis diguyur hujan.
    Setengah jam kemudian mereka tiba di pos penjagaan. Disini tersedia jasa ojek dan sewa Jeep, karena kendaraan pribadi dilarang masuk, kecuali sepeda motor. Setelah membayar tiket sebesar 15 ribu (2 org + 1 motor), perjalanan mereka lanjutkan. Dari sini, medan yang mereka tempuh adalah lautan pasir. Pasir-pasir ini adalah hasil erupsi Bromo. Wisatawan tidak diperbolehkan masuk jika terjadi hujan karena bisa dipastikan daerah ini akan banjir dan tidak bisa dilewati. Tantangan dalam medan ini adalah kita harus waspada agar ban motor tidak tergelincir di atas pasir. Pasir ini akan lebih padat jika setelah turun hujan.
    Bromo telah berada tepat di sebelah kiri mereka. Namun mereka tetap meneruskan perjalanan. Rupanya mereka menuju Gunung Penanjakan. Dari atas gunung ini kita bisa melihat sunrise. Untuk menuju puncak Penanjakan bukanlah hal yang mudah, apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa dengan medan pegunungan. Sebenarnya inilah tantangan sebenarnya dalam wisata Bromo. Jalur yang ditempuh ibarat kita memanjat tebing, curam dan berkelok2. Puluhan atau bahkan ratusan sepeda motor meraung2 berusaha menaklukkan puncak bersama tukang ojek dan Jeep yang lainnya.
    Sekitar pukul 5 pagi, mereka tiba di puncak Penanjakan. Rupanya para wisatawan yang lain telah memenuhi area ini untuk mendapatkan spot terbaik menyaksikan munculnya sang dewa siang. Setelah memarkir motor, mereka harus jalan kaki menaiki tangga menuju “teras” yang disiapkan untuk melihat sunrise.
    Setengah jam berlalu, tak ada sedikit pun tanda-tanda matahari akan muncul. Hanya awan mendung yang menyelimuti hari di pagi itu. Mereka sempat kecewa, tapi tidak beranjak dari tempat, berharap cuaca akan bersahabat. Mereka memanfaatkan waktu dengan bernarsis ria.
    Satu jam berlalu. Kesabaran mereka terbayar. Cuaca menjadi cerah. Awan2 menyingkir. Langit menjadi jernih. Sedikit demi sedikit semburat fajar menyembul dari balik persembunyiannya. Warna jingga menghiasi langit pagi. Indahnya mentari pagi membuat suasana pada saat itu berubah seperti berada di surga tuhan. Ratusan kamera berusaha mengabadikan momen langka itu. Di bawah sana, hamparan kabut membentuk horizon membentang sepanjang mata melihat. Benar-benar berada di Negeri Atas Awan.
    Perlahan kabut itu menghilang menampakkan sosok yang sempat mereka tinggalkan tadi, Bromo. Dari atas, Bromo tampak anggun berdampingan dengan Gunung Batok. Di kejauhan, Gunung Semeru, berdiri kokoh, yang sebagiannya ditutupi awan, yang tampak adalah puncak Mahameru. Sepertinya Yang Maha Kuasa serius ingin menampakkan keindahan ciptaan-Nya pada saat itu.
    Pukul 7 mereka turun menuju tujuan mereka yang utama. Jalur pulang relatif mudah dan mereka tidak perlu menghidupkan mesin motor, karena motor akan meluncur dengan sendirinya. Pemandangan di kaki Penanjakan tidak kalah indahnya. Kanan kiri terlihat tebing yang samar-samar oleh kabut. Beberapa diantara mereka memarkir motor ke pinggir jalan untuk sekedar mengabadikan momen. Namun, mereka harus tetap waspada karena banyak Jeep yang lalu lalang mengantar wisatawan pulang.
    Mereka sempat berhenti di kaki Gunung Penanjakan untuk berkumpul. Setelah berkumpul, mereka berangkat menuju tempat impian mereka, Gunung Bromo. 15 menit kemudian, mereka tiba di kaki Gunung Bromo. Untuk menuju puncak Bromo mereka harus jalan kaki. Jika tidak kuat, kita bisa menyewa kuda. Setengah perjalanan, jalur semakin curam, tapi mulai dari sini, tersedia tangga. Kurang lebih setengah jam, mereka menginjakkan kaki di atas puncak Bromo. Di atas  ini, mereka harus hati2 karena di samping mereka, kawah Bromo menganga mengeluarkan asap belerang.
    Tidak perlu berlama2 di atas2, mereka segera turun untuk bersiap2 pulang. Perjalanan pulang, sekali lagi mereka harus mengarungi lautan pasir. Mereka beruntung karena malam sebelumnya hujan turun, sehingga bisa meminimalisir debu. Jika tidak, kita perlu perlindungan ekstra lebih untuk menghadapi terpaan pasir yang terbang bersama angin.
    Keindahan tidak bisa jauh2 dari mereka. Ketika pulang mereka memilih jalur Tumpang sehingga mereka melewati Bukit Teletubbies. Dinamakan Bukit Teletubbies karena vegetasinya mirip seperti di kartun Teletubbies.
    Dan pada akhirnya, di sore hari mereka tiba di tempat peristirahatan masing2.
                                                                    ***
    Ku buka kembali lembaran2 foto yang berkisah tentang perjalananku bersama mereka.
  • 5 cm.

    Film “5cm” telah sukses menyebarkan virus mendaki gunung kepada masyarakat awam. Statistik mencatat bahwa ada peningkatan jumlah wisatawan yang mendaki gunung sebanyak lebih dari 100% setelah pemutaran film yang diadaptasi dari novel yang berjudul sama ini. Adrenalin kita tentu terpacu untuk menaklukkan puncak tertinggi di pulau Jawa ini.

    Namun tidak serta-merta film ini bisa dijadikan patokan kita untuk mendaki gunung. Karena ada beberapa hal dalam film ini yang terlihat janggal. Saya tidak berniat untuk memberikan stigma negatif terhadap film ini, karena bagaimanapun juga, film dan novel “5cm” ini merupakan favorit saya juga.

    #Memakai Jeans

    Pemeran dalam film ini memakai jeans, yang sangat tidak dianjurkan ketika mendaki gunung. Jeans merupakan bahan yang susah kering apabila terkena air. Jika jeans sudah basah, bobotnya juga akan bertambah berat. Selain itu, jeans juga tidak efesien jika dimasukkan ke dalam carier.

    Sepengetahuan saya, pakaian yang sangat efektif dalam perjalanan mendaki gunung adalah pakaian yang berbahan parasut. Karena selain ringan, tidak mudah basah dan mudah kering, pakaian berbahan parasut juga bisa menghangatkan badan kita. Maklum di gunung itu suhu sangat dingin.

    #Manajemen air

    Ketika tiba di kalimati, mereka kehabisan air, dan meminta air ke salah satu pendaki. Mereka semua lega bahwa mereka dikasih air. Ups, tunggu dulu, mereka cuma dikasih sebotol air untuk berenam. Apakah itu cukup untuk persediaan naik ke puncak dan turun lagi hingga ke Ranu Kumbolo? Entahlah, hanya mereka yang tahu.

    Manajemen air memang sangat penting untuk diperhatikan ketika akan mengadakan pendakian gunung. Orang bisa bertahan sedikit lebih lama jika kekurangan makanan, tapi orang tidak bisa bertahan lama jika kekurangan air. Apalagi cuaca di atas semeru sangat ekstrim. Kata orang, lebih baik kita bersusah payah menyiapkan semuanya ketika masih di bawah, daripada bersusah payah ketika kekurangan segala sesuatunya di atas puncak.

    #Nekat membawa orang awam


    Genta sebagai leader bisa dikatakan nekat membawa teman-temannya mendaki Semeru, padahal itu merupakan pengalaman pertama kali mereka mendaki gunung (minus Genta & Arial). Terlebih lagi Ian yang mempunyai badan lumayan gemuk. Bukan bermaksud ingin mendeskreditkan orang-orang yang bertubuh gempal, namun bagi orang yang bertubuh proporsional sekalipun apabila tidak berlatih terlebih dahulu akan mengalami kesulitan. Apalagi ini merupakan puncak tertinggi di pulau Jawa. Namun, film ini telah mengajarkan kepada kita tentang sihir sebuah tekad.

    Banyak pro dan kontra yang timbul akibat film ini. Sebagai contoh, adalah gunung semakin kotor, karena pengunjung yang datang tidak memiliki pengetahuan khusus tentang mendaki gunung. Meskipun hal ini telah dibantah oleh penulis novel “5cm” ketika saya konfirmasi langsung terkait hal ini. Menurutnya kotornya gunung sekarang bukan karena film “5cm” yang telah menyebarkan virus mendaki gunung, melainkan individunya yang tidak peduli dengan lingkungan.

    Bagaimanapun juga, ini adalah film yang bertujuan komersial. Film ini telah banyak menginspirasi banyak orang, termasuk saya untuk mendaki gunung. Karena lewat gunung, kita lebih merasakan kemaha-agungan Tuhan lewat ciptaannya. Bagi kawan-kawan yang berniat untuk mendaki gunung, alangkah lebih baiknya jika memperhatikan dan mempraktekka hal-hal seperti dibawah ini.

    #Tidak membuang apa pun selain waktu.
    #Tidak mengambil apa pun selain foto.
    #Tidak meninggalkan apa pun selain jejak.

    Anyway, selamat berpetualang. :)
  • BEASISWA DATAPRINT 2013

    Program beasiswa DataPrint telah memasuki tahun ketiga. Setelah sukses mengadakan program beasiswa di tahun 2011 dan 2012, maka DataPrint kembali membuat program beasiswa bagi penggunanya yang berstatus pelajar dan mahasiswa.  Hingga saat ini lebih dari 1000 beasiswa telah diberikan bagi penggunanya.
    Di tahun 2013 sebanyak 500 beasiswa akan diberikan bagi pendaftar yang terseleksi. Program beasiswa dibagi dalam dua periode. Tidak ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi seluruh pengguna DataPrint.  Beasiswa terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta.
    Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. Jadi, segera daftarkan diri kamu, klik kolom PENDAFTARAN pada web ini!
    Pendaftaran periode 1 : 1 Februari – 30 Juni 2013
    Pengumuman                : 10 Juli 2013

    Pendaftaran periode 2   : 1 Juli – 31 Desember 2013
    Pengumuman                : 13 Januari 2014

    PERIODE
    JUMLAH PENERIMA BEASISWA
    @ Rp 1.000.000 @ Rp 500.000 @ Rp 250.000
    Periode 1
    50 orang
    50 orang
    150 orang
    Periode 2
    50 orang
    50 orang
    150 orang

    KETENTUAN LEBIH LANJUT ... KLIK DI SINI !!!
  • MENDIDIK DENGAN HATI

    Pendidikan merupakan input sekaligus output keberhasilan pembangunan sebuah Negara. Teori ekonomi Solow yang sebelumnya, menganggap modal sebatas modal fisik, kini menyadari bahwa modal juga berupa non fisik yaitu human capital. Melihat keberhasilan Jepang saat ini, tidak dapat dipungkiri hal itu hasil “revolusi kecerdasan” yang dipimpin oleh Kaisar Meiji. Revolusi ini dikenal dengan nama Restorasi Meiji, dimana para samurai mengganti pedang mereka dengan buku.

    Sebagaimana diamanatkan didalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 bahwa negara wajib mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan. Meskipun saat ini, Indonesia masih tergolong negera berkembang. Kecerdasan manusia Indonesia di tidak bisa dianggap remeh. Habibie pernah menjadi buah bibir seantero dunia lewat kecerdasannya menemukan teori keretakan pesawat. Bahkan, berbagai olimpiade internasional menjaga lahan subur prestasi manusia Indonesia. Yohanes Surya, pendiri Yohanes Institute, memprediksi bahwa paling lambat pada tahun 2020 akan ada pemenang Nobel dari Indonesia.

    Indonesia memang memiliki segudang manusia cerdas. Namun, “Mengapa bangsa ini masih saja terpuruk didalam kemiskinan?”. Jawabannya, karena mereka hanya cerdas tetapi tidak ber-hati. Kita lihat akhir-akhir ini, banyak orang-orang pintar di Indonesia tersangkut kasus korupsi. Isu yang paling hangat adalah seorang profesor di salah satu perguruan tinggi negeri tak berdaya ketika di tangkap KPK.

    Hal tersebut hanya satu contoh bahwa pendidikan di Indonesia telah melahirkan produk gagal berupa manusia-manusia tidak bermoral. Faktanya, pendidikan di Indonesia hanya mengajarkan kemampuan kognitif saja. Dan kebanyakan guru hanya sebagai sebatas mentransfer ilmu (baca:mengajar) dan tidak mendidik.

    Seperti yang kita ketahui bahwa kecerdasan terdiri dari 3 macam, yaitu IQ, EQ, dan SQ. Intellectual Quotient (IQ) merupakan kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk menganalisa sesuatu dan berfikir secara nasional. Sedangkan, Emotional Quotient (EQ) adalah kecerdasan yang merupakan identitas seseorang meliputi pengendalian diri, semangat, dan emosi.

    Dahulu orang percaya jika kesuksesan ditentukan oleh IQ saja, namun penelitian terbaru memperlihatkan bahwa kesuksesan dipengaruhi oleh 20% IQ dan 80% EQ. Kesuksesan yang diraih oleh seseorang yang memiliki IQ dan EQ tidak akan sempurna jika tidak memiliki SQ. Spiritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan jiwa yang berasal dari hati dan membantu mencari solusi dari masalah yang kita hadapi.

    Patut disyukuri didalam kurikulum 2013, pembuat kebijakan sudah memasukkan ketiga aspek kecerdasan tersebut di dalam pembelajaran. Tetapi, kesuksesan penerapan kurikulum ini sangat bergantung kepada guru. Karena guru adalah ujung tombak keberhasilan pendidikan. Sebagaimana yang yang telah disebutkan diatas, seorang guru harus kembali kepada fitrahnya sebagai seseorang yang digugu dan ditiru. Seharusnya guru mengajar dan mendidik dengan penuh dedikasi, bukan karena tuntutan profesi. Akibatnya, siswa enggan masuk sekolah, tidak bersemangat ketika diberi tugas, lebih suka jajan ketimbang membeli buku, dan lain sebagainya.

    Kita membutuhkan sosok guru yang memperlakukan murid sebagai manusia seutuhnya, karena seperti yang disebutkan Munif Chatib dalam bukunya “Sekolahnya Manusia” bahwa kebanyakan sekolah di Indonesia berpredikat sebagai sekolah robot. Kita merindukan sosok Bu Muslimah dalam film “Laskar Pelangi” yang mengajar dengan sepenuh hati karena cinta dan sayang kepada muridnya. Sehingga generasi penerus ini akan memiliki identitas moral yang kuat. Tentunya harapan ini masih ada, bukan?. Kita yakin, Indonesia akan mampu menjadi Negara maju, hal itu tidak akan tercapai tanpa usaha kita bersama di bidang pendidikan.

    *Disunting oleh: Gita Leviana Putri

    GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    Diberdayakan oleh Blogger.

    Contact us

    Special offer

    Total Pageviews

    Search This Blog

    Like Us

    Ads

    Text Widget

    About

    Ads

    Follow Us

    Sidebar Ads


    Advertisements


    Masukkan username dan password anda


    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13